SEJARAH FPIPSKR

Sejarah FPIPSKR sebagai salah satu dari 7 fakultas di Universitas PGRI Seamarang. Didorong dengan rasa ikut berpartisipasi dalam pembangunan pendidikan di Indonesia, sekaligus sebagai salah satu wujud dukungan terhadap semangat perjuangan PGRI, khususnya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan meningkatkan kesejahteraan serta mutu guru di Jawa Tengah, Pengurus Daerah Tingkat I PGRI Provinsi Jawa Tengah mendirikan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Jawa Tengah. Dengan demikian, IKIP PGRI adalah bagian yang tidak terpisahkan dari PGRI Jawa Tengah dalam melaksanakan, memperjuangkan, mencapai visi-misi, tujuan dan program PGRI.

Sebagai langkah pertama pendirian IKIP PGRI di Jawa Tengah didirikanlah Yasayan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP) PT PGRI Jawa Tengah dengan Akte Notaris Hadi Wibisono, S.H. Nomor 52 tanggal 13 Juli 1981.

Pada Awal berdirinya IKIP PGRI Jawa Tengah membuka 3 Fakultas, yaitu :

1. Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) dengan jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB)

2. Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) dengan jurusan Civic Hukum.

3. Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) dengan jurusan Pendidikan Olahraga

Rektor IKIP Jawa Tengah yang pertama adalah Drs. Thomas Sabar Adiutomo.

Pada tanggal 29 Agustus 1984 melalui Surat Keputusan Mendikbud Nomor 0395/0/1984 memperoleh Status Terdaftar. Pada saat itu sekaligus ditetapkan perubahan bentuk dari Universitas PGRI Jawa Tengah menjadi STKIP PGRI Jawa Tengah yang diijinkan menyelenggarakan Program Diploma 3 (D3) dengan dua jurusan yakni: Civic Hukum dan PPB.

Pada saat Ketua STKIP PGRI Jawa Tengah dijabat oleh Taruna, S.H., sebagai pimpinan kedua, melalui Surat Kopertis Wilayah IV Nomor: 143/K/14/Kop.VI/VI/1987 tanggal 12 Juni 1987, STKIP PGRI Jawa Tengah memperoleh Persetujuan Sementara pembukaan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahsa Inggris, dan Pendidikan Matematika. Kemudian ketiga program studi tersebut melalui Surat Keputusan Mendikbud RI No.088/0/1989 mendapatkan Status Terdaftar. Dengan demikian, STKIP PGRI Jawa Tengah memiliki 5 jurusan yang telah berstatus terdaftar.

Melalui SK Mendikbud RI No.088/0/1990 tertanggal 5 Februaru 1990 STKIP PGRI Jawa Tengah berubah bentuk menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Semarang, dengan 4 Fakultas dan 5 jurusan, yaitu:

a. Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), dengan jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB)

b. Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), dengan jurusan Pendidikan Moral Pancasila dan Kewarganegaraan (PMP-KN)

c. Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS), dengan jurusan Pendidikan Bahsa dan Sastra Indonesia (PBSI) dan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI)

d. Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA), dengan jurusan Pendidikan Matematika.

Pada tahun 1992, 5 jurusan mendapatkan status diakui yakni PPB, PMP-KN, PBSI, PBI, dan Pendidikan Matematika. Pada tahun 1993 sampai 1997, Rektor dijabat oleh Prof. Drs. Satmoko, IKIP PGRI Semarang terus mengalami perkembangan, khususnya di bidang akademik. Di bawah kepemimpinannya, diupayakan pembenahan administrasi umum akademik serta pembinaan kualitas akademik antara lain merintis penugasan dosen untuk studi lanjut dan peningkatkan aktivitas penelitian.

Tahun 1997 sampai 2001 Rektor dijabat oleh Prof. Drs. Sugijono, M.Sc. Pada masa kepemimpinannya 6 program studi memperoleh akreditasi dari BAN-PT. Pada tahun 1998, program studi PMP-KN memperoleh status terakreditasi melalui SK BAN PT Depdiknas Nomor 002/BAN-PT/AK-II/XII/1998. Pada tahun 2002 memperoleh status akreditasi B melalui SK BAN-PT Depdiknas Nomor 002/BAN-PT/AK-V/S1/III/2002.

Pada tahun 2005 yang dalam masa jabatan Drs. Sulistiyo, M.Pd. sebagai Rektor IKIP PGRI Semarang dicanangkan sebagai Periode Mutu. Hal tersebut sesuai dengan UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang mengharuskan melakukan penjamin mutu pada Pendidikan Tinggi.

Pada tahun 2006 mulai ditetapkan Standar Mutu IKIP PGRI Semarang dan secara bertahap mulai diimplementasikan. Untuk melaksanakan tujuan itu telah dibentuk Badan Penjamin Mutu IKIP PGRI Semarang.

Pada tahun 2007, Program Studi PPKn melalui SK BAN-PT Depdiknas Nomor 016/BAN-PT/Ak-X/s1/VII/2007 memperoleh akreditasi B. Sejak tanggal 18 Agustus 2009 Rektor IKIP adalah Muhdi, S.H., M.Hum. Mulai tahun 2009 IKIP PGRI Semarang ditunjuk sebagai induk penyelenggara Sertifikasi Guru dalam Jabatan Rayon 39 berdasarkan Surat Keputusan Mendiknas Nomor 022/P/2009. Pada tahun 2013, melalui Keputusan BAN-PT No. 106/SK/BAN-PT/Ak-XV/S/IV/2013 Prodi PPKn FPIPS dinyatakan terakreditasi dengan peringkat B. Pada tanggal 12 April 2013, FPIPS UPGRIS bertambah satu program studi yaitu Pendidikan Ekonomi dengan SK Mendikbud RI Nomor104/E/O/2013.

Pada tahun 2014, sesuai dengan SK Mendikbud RI Nomor 143/P/2014 tanggal 17 April 2014 IKIP PGRI Semarang dan ATS bergabung menjadi Universitas PGRI Semarang. Bersamaan dengan itu, FPIPS bertambah satu program studi, yaitu Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR). Pada tahun 2014, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial berubah menjadi Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Keolahragaan.

SEMINAR NASIONAL KE-INDONESIAAN III

TERM OF REFERENCE
SEMINAR NASIONAL KE-INDONESIAAN III
FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DAN KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
2018

“Penguatan SDM di Era Disrupsi Teknologi Melalui Pendidikan”

Mckinsey Global Institute memprediksi Indonesia akan memiliki bonus demografi pada tahun 2030 nanti, dimana jumlah penduduk usia produktif akan berjumlah dua kali lipat dari penduduk usia tua atau usia bayi. Hal ini berkebalikan dengan yang terjadi di Amerika Serikat, Australia, negara-negara Eropa, serta negara-negara maju lainnya. Dalam perkembangan global saat ini, sudah banyak fenomena-fenomena yang terjadi, begitupun dengan Indonesia yang dimana semua permasalahannya semakin kompleks, terutama dalam hal teknologi.
Di tengah pasar bebas yang cenderung menciptakan kompetisi ketat antar individu yang mendorong kita untuk memiliki skill yang menunjang dalam penciptaan lapangan pekerjaan , dibutuhkan kemampuan untuk bisa menguasai teknologi yang semakin hari semakin berkembang dan semakin canggih. Tantangan utama datang dari pertumbuhan penduduk, yang membawa serta permasalahan pemerataan kesempatan belajar dalam rentang geografi maupun strata sosial. Sejalan dengan itu, secara bersamaan meningkat pula harapan masyarakat akan peran perguruan tinggi dalam memecahkan berbagai permasalahan nasional.

Sementara itu, perkembangan dalam teknologi digital dengan artificial intelligence (AI) yang mengubah data menjadi informasi telah membuat orang dengan mudah dan murah memperolehnya. Perubahan ini berpengaruh pada tata kerja perguruan tinggi sebagai salah satu sumber kemudahan-kemudahan tersebut, termasuk perubahan dalam tata cara belajar dan mengajar. Dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan tersebut, dunia perguruan tinggi di masa depan perlu mengalami penataan agar tetap mampu menjalankan berbagai perannya, yaitu pendidikan dan pengajaran, pengembangan, serta diseminasi untuk menjadi khazanah ilmu bagi masyarakat dan membantu masyarakat memanfaatkan karya.
Atas dasar tersebut sangat penting dilakukan upaya untuk merumuskan pandanga-pandangan tentang identitas Ke-Indonesiaan saat ini. Dengan latar belakang tersebut di atas Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Keolahragaan, Universitas PGRI Semarang yang terdiri dari 3 program studi yaitu Pendidikan Ekonomi, Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Jasmani Keolahragaan dan Rekreasi berkolaborasi mengadakan Seminar Nasional Ke-Indonesiaan III yang mengambil tema “ Penguatan SDM di Era Disrupsi Teknologi Melalui Pendidikan”. Rekomendasi pandangan-pandangan dari seluruh peserta menjadi salah satu upaya untuk menguatkan langkah bangsa dan negara Indonesia ini menghadapi arus jaman dengan segala dinamika teknologi melalui pendidikan.
Pelaksanaan kegiatan Seminar Ke-Indonesiaan III dimaksudkan untuk :
1. Membahas mengenai peran SDM dalam bidang teknologi dan korelasinya dengan pendidikan.
2. Membahas mengenai penguatan SDM di era digital.
3. Membahas peran teknologi dalam pendidikan.
4. Membahas upaya‐upaya peningkatan kualitas SDM di Indonesia.

1. NAMA KEGIATAN
Nama kegiatan ini adalah “ SEMINAR NASIONAL KEINDONESIAAN III”
Dalam kegiatan Seminar Ke-Indonesiaan kali ini kami mengusung tema“Penguatan SDM di Era Disrupsi Teknologi Melalui Pendidikan”.
Sub – tema :
a. Pendidikan
b. Entrepreneurship
c. Sport Tourism
d. Deradikalisasi
e. Digitalisasi
2. BENTUK KEGIATAN
Bentuk kegiatan ini berupa Seminar Ke-Indonesiaan III tentang “Sumber Daya Manusia di Era Disrupsi Teknologi Melalui Pendidikan” yang akan diisi oleh 3 pemateri yaitu :
1. Yudi Latief, P.hD
2. Prof. Dr. Joko Widodo, M.Pd ( Universitas Negeri Semarang )
3. Dr. Syahruddin, M.Kes, ( Universitas Negeri Makassar)

3. WAKTU DAN TEMPAT

Pelaksanaan Seminar Ke-Indonesiaan III akan dilaksanakan pada:
Waktu   : Kamis, 30 Agustus 2018
Jam       : 08.00 – 15.00 WIB
Tempat : Gedung Balairung Kampus Universitas PGRI Semarang, Jl. Sidodadi Timur No. 24-Dr .Cipto Semarang.

4. PESERTA
Peserta kegiatan dalam Seminar Ke-Indonesiaan III FPIPSKR kurang lebih sebanyak 500 peserta yaitu terdiri dari :
1. Akademisi
2. Guru
3. Mahasiswa
4. Masyarakat Umum
5. PENYELENGGARA & SUSUNAN PANITIA
Seminar ini diselenggarakan oleh Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Keolahragaan Universitas PGRI Semarang. Susunan kepanitiaan Seminar Ke-Indonesiaan adalah sebagai berikut :

Pelindung                                                        : Rektor Universitas PGRI Semarang
Dr. Muhdi, SH., M.Hum.

Penanggungjawab                                          : Dekan FPIPSKR Universitas PGRI Semarang
Penasihat                                                          : Wakil Dekan I FPIPSKR dan Wakil Dekan II FPIPSKR

Ketua                                                                 : Dr. Endang Wuryandini, M.Pd.
Sekertaris                                                          : Aryan Eka Prastya Nugraha, SE, M.Pd
Bendahara                                                        : Donny Anhar Fahmi, S.Si, M.Pd
Sidang perumus dan acara                            : Dra. Sri Suneki, M.Si
Tubagus Herlambang, S.Pd., M.Pd
Fajar Ari Widiyatmoko, S.Pd., M.Pd
Mahmud Yunus, S.Pd., M.Pd

Sie publikasi/dokumentasi                           : Agus Wiyanto, S.Pd., M.Pd
Ibnu Fatkhu Royana, S.Pd., M.Pd
David Firna Setiawan, S.Pd., M.Pd

Sie Konsumsi                                                   : Bertika Kusuma Prastiwi, S.Pd, Jas, M.Or
Yulia Ratimiasih, S.Pd., M.Pd
Maftukin Hudah, S.Pd., M.Pd
Valdyan Drifanda, S.Pd., M.Pd

Sie perlengkapan                                           : Suryadi, SE
Lalu Ardhany, SE

Sertifikat                                                          : Rahmat Sudrajat, S.Pd., M.Pd
Nur Khoiriyah, S.Pd

Penerima tamu                                              : Galih Dwi Pradipta, S.Pd., M.Or
Osa Maliki, S.Pd., M.Pd
Novika Wahyuhastuti, SE, M.Si
Hima Tiap Prodi.

SEKRETARIAT PANITIA :
Kampus 4 Lantai 2, Jl. Gajah Raya No.40 , Semarang
No. Telp. (024) 8316377, 844821 Faksimile (024) 8448217
Email: seminarkeindonesiaan@upgris.ac.id
Contact Person :
085 60088 6600 (Ibnu)
085 641202860 (Aryan)

 

 

SEMINAR NASIONAL KEINDONESIAAN III TAHUN 2018

FPIPSKR

UNIVERSITAS PGRI SEMARANG

“Penguatan SDM di Era Disrupsi Teknologi Melalui Pendidikan”

Kamis, 30 Agustus 2018

 

NO KEGIATAN WAKTU
1. Registrasi Peserta 07.00 – 08.00
2. Pembukaan dan Laporan Panitia

Sambutan Dekan FPIPSKR

Sambutan Rektor

08.00 – 08.15

08.15 – 08.30

08.30 – 09.00

3. Presentasi I

Yudi Latief, P.hD

Presentasi II

Prof. Dr. Joko Widodo, M.Pd

Presentasi III

Dr. Syahruddin, M.Kes

Sesi Tanya Jawab / Diskusi

09.00 – 09.45

 

09.45 – 10.30

 

10.30 – 11.15

 

11.15 – 12.00

 

4. ISHOMA 12.00 – 13.00
5. Paparan Paralel Peserta Pemakalah

Per Subtema

13.00 – 15.00
6. Penutupan 15.00 – selesai

BEM FPIPSKR Mengadakan Seminar Kepahlawanan

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FPIPSKR mengadakan Seminar Nasional Kepahlawanan sebagai bentuk wujud pemuda dalam mengembangkan jiwa nasionalisme. Seminar Kepahlawanan ini termasuk salah satu kegiatan dari rangkaian kegiatan dalam memperingati Hari Pahlawan 10 November 2017.

Seminar Kepahlawanan bertemakan “Kembangkan Jiwa Nasionalisme Pemuda Melalui Pendidikan” dengan narsumber terkemuka Prof. Dr. Ki Supriyoko M.Pd. dan Prof. Dr. Anhar Gonggong. Acara ini diikuti oleh 1200 peserta dari kalangan mahasiswa, guru dan juga dosen.

 

Acara seminar ini di awali dengan penanaman pohon dewandaru di Kampus IV UPGRIS Oleh Rektor Universitas PGRI Semarang Dr. Muhdi S.H., M.Hum dan oleh kedua Narasumber, dengan maksud agar “arti dari pohon Dewandaru yaitu pembawa wahyu yang diharapkan pohon tersebut membawa wahyu (kabar baik) untuk FPIPSKR pada khususnya dan UPGRIS pada umumnya” imbuh Bapak Rektor dalam Pidato Pembukaan Seminar Kepahlawanan.

Dalam acara ini, peserta mendapatkan wawasan tentang bagaimana menegmbangkan jiwa Nasionalisme di ero modern yang saat ini sudah banyak pemuda yang melupakan jasa para pahlawan.

Antusiasme peserta sangat tinggi terlihat dari banyaknya pertanyaan yang dilontarkan oleh para peserta bahkan sampai di akhiri oleh moderator.

Upacara Pembukaan Kegiatan Bulan Pahlawan

Dekan FPIPSKR Dr. Titik Haryati, M.Si. Membuka rangkaian kegiatan bulan pahlawan pada upacara pembukaan yang dilaksanakan Rabu, 1 November 2017 di halaman kampus IV Universitas PGRI Semarang. Upacara pembukaan ini di gelar untuk membuka serangkaian kegiatan yang sudah tersusun mulai tanggal 1 sampai dengan puncak acara pada 10 November nanti.

Acara pun dilanjutkan dengan bersih halaman kampus IV UPGRIS yang diikuti oleh BEM FPIPSKR, dosen dan seluruh mahasiswa FPIPSKR untuk memunguti kerikil dan juga sampah di area kampus. acara ini bertujuan agar rangkaian kegiatan bulan pahlawan harus dimulai dari sesuatu yang bersih dan di akhiri dengan sesuatu yang bersih pula.

Tidak hanya disitu saja, kemeriahan dilanjutkan dengan perlombaan permainan tradisional antar angkatan disetiap program studi di FPIPSKR. permainan tradisional yang dilombakan adalah lomba balap karung, egrang, bakiak dan juga tarik tambang. Antusiasme mahasiswa sangat tinggi dalam mengikuti kegiatan ini. Acara pun berakhir di bawah terik matahari pukul 13.00 yang dimenangkan oleh Program studi PJKR.

FPIPSKR Gelar Rangkaian Kegiatan di Bulan Pahlawan

Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial dan Keolahragaan (FPIPSKR) bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FPIPSKR Menggelar serangkaian acara guna memperingati Hari Pahlawan 10 November 2017. Acara dimulai dengan upacara pembukaan dari tanggal 1 November dan puncak acara pada 10 November 2017.

Upacara Pembukaan yang rencananya akan dibuka oleh Ibu Dekan FPIPSKR Dr. Titik Haryati, M.Si. dan acara dilanjutkan dengan perlombaan tradisional. Kemudian kegiatan selanjutnya pada 6 November 2017 adalah Seminar Kepahlawanan dengan narasumber Prof. Dr. Ki Supriyoko dan Prof. Dr. Anhar Gonggong dengan tema “Kembangkan Jiwa Nasionalisme Pemuda Melalui Pendidikan”.

Acara tidak hanya melibatkan internal UPGRIS saja, namun juga pihak luar yaitu “Lomba Poster” bertemakan Kepahlawanan yang diikuti oleh siswa siswi SMA/SMK se-Kota Semarang.

Puncak acara rangkaian kegiatan bulan pahlawan pada 10 November 2017 di awali dengan Upacara Hari Pahlawan di Halaman Kampus IV Universitas PGRI Semarang. Upacara ini diikuti oleh seluruh warga FPIPSKR dan juga jajaran dari Universitas dengan memakai pakaian bertemakan kepahlawanan. Usai Upacara, dilanjutkan dengan karnaval menuju Masjid Agung Jawa Tengah kembali ke Kampus IV UPGRIS.

Penutupan gelaran bulan pahlawan ditutup dengan pentas seni dari FPIPSKR bertempat di balairung Universitas PGRI Semarang. Rangkaian kegiatan ini adalah semata-mata untuk memupuk rasa nasionalisme dan mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur di medan perang, dan sebagai kaum penerus kita wajib menjaga dan meneruskan perjuangan para pahlawan.

Peran PT dalam Inovasi

Seiring dengan perubahan kontur tanah hingga kondidi iklim yang ekstrim, diperlukan riset dan penelitian sehingga menghasilkan inovasi baru berkelanjutan pada jenis beton. Penelitian tersebut perlu melihat pelbagai aspek, termasuk perguruan tinggi.

“Salah satu inovasi terbaru yakni beton bajik atau virtous concrete, berupa beton yang memiliki keunggulan tiga karakter utama yaitu awet, berkelanjutan, dan “pintar”, terang pakar teknik sipil dari American Concrete Institute Retno Susiloni, dalam Seminar Nasional dan Dialog Akademik yang digelar forum Komunikasi Mahasiswa Teknik Sipil Indonesia (FKMTSI) di Balairung UPGRIS, 6 Desember 2016.

Jenis beton ini menggunakan bahan tambahan berbasis gula serta mortar dan beton polimar termodifikasi alami. Sejauh ini penerapannyadigunakan sebagai bahan grouting dan retrofitting, bangunan rumah tinggal yang rusak terkena rob dan air laut, contoh kasusnya di kawasan Demak.

Hal senada juga disampaikan Rektor UPGRIS Dr Muhdi SH MHum. Menurutnya melalui kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa teknik sipil seluruh Indonesia, mampu menghasilkan berbagai pemikiran untuk pembangunan di Indonesia. Rektor mendorong agar ada peningkatan jumlah insinyur di Indonesia.

Peluang Penerjemah Bagi Mahasiswa UPGRIS

Persaingan dunia kerja membuat sejumlah para sarjana pendidikan mesti pandai-pandai mempersiapkan diri. Membludaknya jumlah lulusan muda disebut tidak seimbang dengan jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia, terutama di pulau Jawa.

Lulusan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris bisa dikatakan memiliki lulusan yang berlimpah karena memang jurusan ini menjadi favorit di pelbagai perguruan tinggi di Indonesia. Mereka tentu tidak boleh menganggap bahwa satu-satunya lowongan hanya menjadi guru atau dosen saja.

Salah satu kesempatan yang bisa dimanfaatkan oleh lulusan sarjana Pendidikan Bahasa Inggris adalah dengan menjadi penerjemah. Banyak yang belum melihat celah ini, betapa jumlah penerjemah profesional di Indonesia masih begitu sedikit.

Hal itu disampaikan oleh Prof Drs M.R. Nababan M Ed MA PhD, profesor dan tokoh penerjemahan nasional dan ketua Himpunan Masyarakat Penerjemah Indonesia dalam Seminar Nasional Penerjemahan, dengan mengusung tema “Penerjemah sebagai Alternatif Karir bagi Sarjana Pendidikan bahasa Inggris: Prospek, Tantangan, Hambatan”, yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan bahasa Inggris Universitas PGRI Semarang, di Kampus II Universitas PGRI Semarang di kompleks Jl.Sriwijaya, (16 Desember 2016).

Meski tak terlalu populer, profesi penerjemahan ternyata juga memiliki banyak kompetensi yang mesti dikuasai. Prof Nababan menjelaskan,”Penerjemah harus menguasai bahasa sumber dan sasaran. Paling tidak paham bilingual. Sehingga hasil terjemahan bisa berterima dengan bahasa sasaran dan mudah dipahami, dan tak mengesampingkan tradisi dan budaya bahasa sasaran”.

Selain itu, Prof Nababan juga menceritakan pengalamannya selama dua puluh tahun lebih berkecimpung di dunia penerjemahan. “Penerjemah mesti bermental tangguh, tak gampang putus-asa. Sifat bahasa yang terus mengalami penambahan kosakata dan perubahan makna sesuai konteksnya membuat penerjemahan selalu mendapatkan tantangan-tangan baru, yaitu ketika ada kosakata baru yang belum tercatat di dalam kamus”.

Namun bagi yang berminat pada dunia penerjemahan tidak usah kuatir. Mereka bisa bergabung di organisasi penerjemah, seperti Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) atau Masyarakat Penerjemah Indonesia (MPI). Dengan demikian ada teman untuk dialog ketika menemukan kesulitan dalam menerjemahkan.

Sementara itu, pembicara kedua, Drs Adi Loka Sujono MPd, dosen Universitas Widyatama Malang dan praktisi penerjemahan buku-buku  sekaligus intrepeter nasional, menegaskan bahwa untuk memasuki usaha penerjemahan, mesti ada persiapan matang. Karena usaha penerjemahan sama halnya bisnis, maka harus ada pertimbangan-pertimbangan yang mesti diperhatikan. Dari menjaga kualitas penerjemahan, pelayanan kepada konsumen, hingga upaya menjalin perjanjian dengan penerbit.

“Penerjemah mesti sanggup bekerja di bawah deadline yang ketat, disiplin, sekaligus terus melakukan pemutakhiran ilmu pengetahuan”, tegas Adi Loka.

Jafar shodiq, S.Pd., M.Pd, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris menyampaikan dalam sambutannya agar mahasiswa bisa menangkap peluang-peluang yang ada. Sarjana pendidikan Bahasa Inggris sepatutnya bisa memanfaatkan seminar penerjemahan ini, karena memang profesi penerjemah masih terbilang sedikit dan minim peminat

UPGRIS Peringati Hari Bahasa Ibu Internasional

Bahasa ibu adalah bahasa yang pertama kali dipelajari oleh manusia sejak ia dilahirkan. Bahasa ibu menjadi komunikasi manusia di era pertumbuhan. Dengan begitu, bahasa ibu menjadi bahasa yang tak hanya berguna sebagai komunikasi semata. Bahasa ibu juga memiliki nilai-nilai kasih sayang karena di dalamnya biasa dipakai seorang ibu kepada anak-anaknya. Bahasa ibu menjadi bahasa pertama penyampaian pendidikan dasar bagi seorang manusia. Dan bahasa ibu, biasanya tak lain adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat berdasarkan masing-masing tempat. Misalnya, seorang yang lahir di daerah pesisir Jawa Tengah, tentu saja akan dibesarkan dengan komunikasi menggunakan bahasa asli daerah tersebut, sebut saja Jawa Ngapak, Jawa Pesisiran, atau Jawa Tegalan. Padahal, Indonesia sendiri memili sekitar 742 bahasa daerah yang keseluruhannya memiliki pengucap di masing-masing daerah, yang lambat laun berkurang pengucapnya.

Namun, dari tahun ke tahun, bahasa ibu pelahan mulai berkurang penggunanya. Bahasa ibu mulai jarang digunakan karena faktor keluarga, pendidikan, juga pergaulan. Di ranah keluarga, kadang banyak orangtua yang terlalu besar memberikan harapan kepada anaknya agar bisa mampu berbahasa Indonesia atau Inggris sejak dini. Orangtua merasa bangga jika anaknya yang mahir bahasa asing sajak kecil. Padahal, dalam sistem pendidikan kita sudah diatur kapan sebaiknya seorang anak mulai mempelajari bahasa kedua (Indionesia) dan ketiga (misalInggris). Kedua, faktor pendidikan. Banyak sistem pengajaran di kelas yang sudah tidak menggunakan bahasa pengantar menggunakan bahasa ibu menurut masing-masing daerah. Rata-rata bahasa pengajaran menggunakan bahasa Indonesia sepenuhnya, dengan gharapan agar mudah menyampaikan materi. Padahal, sebenarnya bahasa ibu penting digunakan, terutama pendidikan dasar. Semisal penggunaan bahasa Jawa alus untuk anak-anak SD di Jawa. Ketiga adalah pergaulan. Anak cenderung berbahasa mengikuti apa yang dipakai oleh teman-temannya. Tak jarang, anak-anak terpengaruhi berkata-kata jorok karena terpengaruh teman-temannya. Begitu pula dengan penggunaan bahasa ibu. Anak yang lahir di desa dan dibesarkan di kota besar cenderung akan mengikuti bahasa pergaulan di kota ketimbang bahasa asli ibunya.

Atas dasar pelbagai pertimbangan di atas, Universitas PGRI Semarang berkomitmen untu menjaga penggunaan bahasa ibu sebagai kekayaan budaya dan bangsa yang patut dipertahankan. Wujudnya adalah dengan menyelenggarakan Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional Fakultas Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang pada tanggal 21 Februari 2017 di Gedung Balairung Universitas PGRI Semarang. Acara ini diisi dengan pelbagai penampilan mahasiswa dari pelbagai daerah, serta lomba-lomba untuk tingkat pelajar dan SMA/ sederajat. Dalam acara tersebut hadir pula perwakilan dari Perantara (Persaudaraan Antar Etnis Nusantara) Jateng dan Kepala Balai Bahasa Provinsi Jateng Drs Pardi MHum.

Adapun yang dilombakan adalah Lomba Macapat dengan peserta 44, Lomba Menari Tari Kreasi 19, Lomba Dongeng 19. Keseluruhan lomba itu diikuti oleh hampir seluruh perwakilan sekolah di Jawa Tengah. Berikut para peraih juara lomba tersebut: Macapat Putra Juara 1 Aldy Pratama (SMA N 1 Wonogiri) Juara 2 Muhammad Nur Roosyid (SMK N 5 Semarang) Juara 3 Madu Sudomo (SMK N 6 Semarang) Macapat Putri Juara 1 Kartika Ragil Nastiti (SMA N 2 Batang) Juara 2 Ayik Almaratussakhomah (SMA N 1 Grobogan) Juara 3 Alfina Hidayatust Sania (SMK N 1 Semarang) Pemenang Lomba Menari Jawa Kreasi Juara I tari: tim SMAN 7 Smg Juara II: tim SMAN 1 Comal Juara III: tim SMAN 5 Semarang.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor Universitas PGRI Semarang Dr Muhdi SH MHum menyampaikan, “Bahasa Indonesia bukan satu-satunya bahasa di Indonesia, namun menjadi bahasa pemersatu. Peran bahasa daerah atau bahasa ibu juga sangat penting, selain sebagai identitas kedaerahan, juga sebagai wujud keberagaman budaya dalam kebersamaan”. Sementara Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni UPGRIS Dra Asropah MPd menuturkan, “Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional dimanfaatkan untuk mengadakan lomba Tari Kreasi Jawa, Dongeng, danm Macapat. Dengan lomba itu, anak-anak diajak untuk memahami kembali esensi bahasa ibu. Harapannya, anak-anak tidak melupakan bahasa ibu”.